• Aku dan diriku

    Aku dan diriku

    Aku adalah seorang penulis yang ingin mencurahkan segala pemikiran ku melalui media blog ini.

  • Aku dan Teman- Temanku

    Aku dan Teman- Temanku

    Bagiku teman adalah penuntun ku untuk memikirkan hal hal baru yang belum pernah terpikirkan sebelumnya. Meraka membantuku dengan baik

  • Blogku Mediaku

    Blogku Mediaku

    Inilah mengapa aku memilih blog karena susunannya yang simpel, mudah dioperasikan, dan enak bagiku sebagai seorang penulis pemula.

  • Cita cita dan Usaha

    Cita cita dan Usaha

    Mungkin sulit bagiku untuk meraih cita citaku. Tapi aku selalu yakin bahwa aku bisa melakukannya.

  • Mari Belajar

    Mari Belajar

    Dengan Belajar, kita akan menemukan hal hal baru yang mungkin membawa kita kedalam kesuksesan

  • About Me

    About Me

    Aku hanya ingin menuliskan beberapa patah kata yang mungkin berguna bagi kita semua.

Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan

Ghost of Love

2 komentar
Vin,
besok jangan lupa bawa catatan kimia, fisika, matematika, and biologi
ya,’’ kata Adit.
‘’Iya deh,,iya..,’ ‘ sambungku.
‘’Eits,,wait !oh ya,catatan jepang juga ya..,’’ kata Adit lagi.
‘’Iya…,’’ jawabku singkat.
‘’Jangan lupa lho…,’’ katanya lagi.
‘’Iya Dit….iya…,’’ jawabku singkat lalu kututup HP-ku. Habisnya,temanku
yang satu ini paling recok deh. Kalau bicara sama dia,aku bisa gondokan
nih…tapi,dia itu teman aku yang paling baik lho. Ada satu lagi temanku
yang namanya Rian, hubungan kami bertiga sangat akrab.

Esoknya, saat istirahat,aku dan Rian pergi ke kantin untuk makan.
Beberapa saat kemudian Adit tidak muncul juga. Kami berdua keheranan,
padahal biasanya kami bertiga makan sama-sama. Sampai waktu istirahat
berlalu, Adit tidak muncul juga. Jadi aku dan Rian memutuskan untuk
beranjak masuk kelas. Saat pulang sekolah pun kami tidak melihat Adit.
‘’Mana sih ni anak??’’ gerutu Rian, kami berdua makin heran,dan Rian
mengusulkan untuk pergi ke rumah Adit.

Kami sampai di rumah Adit, pengurus rumahnya yang membukakan pintu
untuk kami.Mak Tita menyuruh kami langsung naik ke kamar Adit saja.
‘’Dit..napa lu?,’’ sapaku saat melihat Adit terbaring. ‘’Lagi sakit
nih…,’’ jawabnya lemas. ‘’Tumben..Lu bisa sakit juga ya…,’’ ejek Rian.
Kami bertiga pun tertawa secara serentak. Habisnya Adit tuh yang
biasanya overacting paling semangat dan paling recok. Aku dan Rian tak
menyangka kalau rupanya Adit bisa jatuh sakit juga.
‘’Sakit apaan sih lu?,’’ tanyaku.
‘’Mau tau aja Lo…,’’ jawabnya sombong.
‘’Dasar lu! lagi sakit pun sombongnya minta ampyuun, ntar gak bisa
sembuh lho…,’’kata Rian membelaku.
‘’Ada aja…,’’ kata Adit.
‘’Dasar lu…,’’ kata Rian sembari menggelinya.
‘’Eh guys, Gue punya pertanyaan nih..’’ kata Adit.
‘’Iya, apaan?,’’ tanyaku. ‘’Kalo Lo hidupnya tinggal sehari, apa yang
mau Lu lakuin?’’ tanyanya.
‘’Kalo gue, mau pergi ke tempat favorit gue and ngehabisin hari gue di
sana,’’ jawabku singkat.
‘’Kalo gue, mau tidur aja deh jadi gue gak bakalan menderita waktu gue
lagi sekarat,’’ kata Rian.
‘’Oh,,.iya donk,,habisnya hobi lo kan molor aja…,’’ ejekku.
‘’Nah,gimana kalo lo Dit?,’’ tanyaku padanya. ‘’Kalo gue… gue pingin
ngehabisin waktu yang ada bersama cewek yang gue suka,’’ jawabnya dengan
muka yang sedih.

Dan ia menatapku. aku merasakan kalau tatapan itu ada maksudnya.
Habisnya tatapan itu aneh. Sedangkan Rian terus merecokinya dengan cewek
yang ia sukai itu, aku sih tidak begitu peduli, habisnya aku sudah tau
kalau Adit suka sama seorang cewek. Namun aku penasaran juga, jadi aku
juga ikut-ikutan Rian merecokinya. Tapi Adit tak pernah mau mengatakanya,
Kami berdua menghabiskan sore itu di rumah Adit dan berbincang-bincang
dengannya. Saat hari sudah mulai gelap aku dan Rian pun berpamitan.

***

Liburan kali ini Rian pergi ke luar kota bersama keluarganya. Jadi
tinggal aku dan Adit yang tak punya rencana kemana-mana. Akhirnya Adit
mengajakku untuk pergi ke kampung halamannya. Dan aku setuju saja, di
sana banyak padang rumput yang hijau yang penuh bunga. Aku sangat
menyukai tempat itu. Kami berdua bermain di sana setiap hari dan
kurasakan kalau aku mulai menyukai Adit. Tapi aku tak tahu bagaimana
perasaan Adit terhadapku. Jadi kupendam saja perasaanku ini.

Lagipula aku sudah berjanji akan berpacaran dengan Rian setelah ia
kembali dari liburannya. Jadi hubunganku dengan Adit adalah tidak
mungkin. Tak mungkin aku mengingkari janji ku dengan Rian dan mengatakan
pada Rian kalau aku menyukai Adit. ‘’Tidak mungkin,’’ pikriku.
Dan aku tetap melewati hari-hariku bersama Adit dan berharap bahwa
hari-hari ini tidak akan pernah berakhir. Namun waktu tetap berjalan dan
waktu liburan tinggal satu hari lagi.

Esoknya, Adit mengajakku ke padang rumput dan kami menghabiskan waktu
bersama di sana. Kami berbincang-bincang dan tiba-tiba Adit memelukku
dari belakang dan kudiami saja. Ia memelukku erat-erat tanpa berkata
apa-apa. Sesaat kemudian aku memanggilnya dan ia tak menjawab. Jadi
kupanggil lagi ia tetap tidak menjawab. Aku pun menjadi heran.

Tiba-tiba Adit jatuh dan tak sadarkan diri. Aku menjadi takut dan
kubawa ia ke rumah sakit terdekat.Dokter mengatakan kalau ia kena
serangan jantung. Dari dulu ia punya penyakit jantung bawaan dan
penyakitnya bisa kambuh kapan saja. Aku masih tak percaya atas
penjelasan dokter dan aku berusaha masuk ke kamarnyadan
memanggilnya.Namun ia tak menjawabku, air mataku menetes tanpa kusadari.

‘’Apakah ini saat-saat yang tidak ingin aku alami ini harus terjadi
sekarang?,’’ tangisku dalam hati. Hatiku menjerit ketika aku kehilanagan
orang yang kusuka. Aku bukan saja kehilangan tubuhnya,namun juga
jiwanya. Aku berpikir bahwa aku masih bisa melihatnya, menyentuhnya dan
akrab dengannya meskipun hanya sebagai teman.

Namun sekarang aku tidak memilikinya lagi, baik sebagai teman ataupun
pacar aku merasa sangat terpukul. Namun aku masih mempunyai satu hal
yang tak bisa direbut siapapun dan apapun yaitu kenangan bersamanya,
selamanya aku akan mengingat hari-hari dimana aku bersama Adit.
Saat Rian pulang dari luar kota ia juga merasa sedih akan kepergian
Adit. Namun,itu semua berlalu dengan cepat. Aku dan Rian saling
melengkapi dan memahami. Aku sudah tak begitu sedih lagi akan kepergian
Adit karena ada Rian yang senantiasa di sampingku dan menghiburku. Ia
mengisi hari-hariku dan sekarang aku sudah bisa menerima kehilangan Adit
dan keberadaan Rian.

Seiring berjalannya waktu, aku mulai merasa sifat Rian mulai berubah.
Aku bisa melihat sifat Rian menjadi sama seperti sifat Adit. Mungkin
Rian berusaha meniru gaya Adit,pikirku pada awalnya. Tapi lama kelamaan
hal itu semakin mejadi-jadi. Aku tak mungkin salah membedakan yg mana
Adit dan Rian. Akhir-akhir ini aku merasakan keberadaan Adit pada diri
Rian atau itu hanya perasaanku saja?.

Tapi tak mungkin sikap Rian dan Adit sangat berbeda, meskipun kalau Rian
meniru gaya Adit, kadang-kadang pasti ada juga kesalahan sikap Rian
menjadi perhatian tapi tak selembut Adit. Rian biasanya bisa mengubah
suasana menjadi seru dengan pamer-pameran, Namun Adit bisa mengubah
suasana menjadi romantis dan akhir-akhir ini Rian menjadi lembut dan
hangat, aku bisa merasakannya. Ini bukan sikap Rian yang biasanya sikap
ini sama seperti sikap Adit.

Setahun setelah kematian Adit, aku dan Rian pergi ke padang rumput yang
berbunga di desa Adit, aku teringat setahun yang lalu ketika aku dan
Adit bermain di sini di padang rumput ini. Ia memetikkan aku setangkai
bunga lili yang putih bersih. Sekarang datang kemari bersama Rian,
anehnya kali ini Rian yang memetikkan bunga untukku dan bunga itu sama
dengan yang Adit berikan padaku setahun lalu.

Rian juga melakukan hal sama seperti Adit setahun lalu. Ia memelukku,
Aku tak tahu siapa yang memelukku Rian ataukah Adit. Wajah yang kulihat
adalah Rian, tubuh yang memelukku adalah Rian tapi mengapa kurasakan
kehadiran Adit? yang kurasakan adalah kehangatan Adit. Aku heran aku
berpikir ini adalah Adit, pasti Adit, Aku yakin.

‘’Dit, apakah ini lo?,’’ tanya ku pada Rian. Aku menatapnya lekat-lekat
dan ia tersenyum padaku. ‘’Iya Vin. Ini gue Adit,’’ jawabnya. Aku tak
bisa lagi menahan air mata ku. Aku tak pernah tahu bagai mana Adit bisa
ada di tubuh Rian, tapi yang pasti kulakukan adalah memeluknya
erat-erat. Kalau bisa aku tak mau melepasnya sudah lama aku kehilangan dia.

‘’Vinada yang mau gue katakan sama lo, gue dari dulu suka sama lo. Maaf
ya kalo gue baru bilang sekarang. Mungkin udah telat tapi Vin gue datang
untuk mengatakannya.Gue mau lo tahu kalo gue suka sama lo Vin,”
terangnya sambil diakhiri dengan jeritan sembari memelukku erat-erat.

‘’Iya Dit,gue udah tau kok. Gue juga suka ma lo’’ ujarku sambil menatap
matanya. Dulu gue suka sama lo Dit. Sampai sekarang juga.gue gak terima
kenapa lo ninggalin gue tanpa berkata apa-apa.Dan kenapa lo sakit lo gak
mau kasih tau gue? kenapa Dit?,’’ tanyaku sambil menangis
‘’Maaf Vin, gue gak mau lo sedih,’’ ujarnya dengan rasa bersalah.
‘’Tapi sekarang gue juga merasa sedih kan Dit?,’’ desakku.

‘’Maaf Vin, tapi kalao lo mau,gue bisa tinggal di sini,di tubuh Rian
dan kita bisa hidup bersama.’’ terang Adit..’’ Tapi bagaimana dengan
Rian?,’’ tanyaku. ‘’Rian…Rian mesti mengorbankan dirinya demi kita Vin.
Dia pasti mau Vin. Dia pasti mau ngelihat lo bahagia,’’ balas Adit. ia
mengatakan seolah-olah Rian menyetujuinya, sejenak aku berfikir bahwa
Adit hanya mau menang sendiri.
‘’Enggak Dit. Ini tubuh Rian. Ini milik Rian. Gue gak mau Rian
mengorbankan dirinya demi kita. gue gak mau Dit,’’ tolak ku. ‘’Jadi lu
memilih berpisah Vin?,’’ tanya Adit. ‘’Maaf Dit, ini tubuh Rian, jangan
egois Dit, hubungan kita sudah terlambat. Gak mungkin bisa kembali
lagi,’’ ujarku dengan tegar menahan air mataku.

‘’Gue ngerti Vin, tapi maaf udah bikin lo sedih. Tapi gue yakin bisa
menghibur lo. Rian bisa menggantikan posisi gue, gue suka lo Vin. gue
akan tetap suka lo selamanya.gue janji..,’’ ungkapnya. ‘’Gue juga suka
sama lo Dit…,’’ balasku.
Kemudian ia menciumku dan esoknya aku terbangun di kamar dengan Rian
yang sudah menungguku dengan wajah cemas. ‘’Vin, lo kok tiba-tiba
pingsan sih?,’’ tanya Rian cemas. Aku hanya tersenyum mendengar
perkatannya. Kusadari, ini baru benar-benar sikap Rian, aku masih
membayangkan apa yang terjadi itu benar- benar atau hanya mimpi? tapi
aku tahu ini adalah nyata, karena aku mengenal tatapan yang mampu
menembus hatiku sama seperti Adit lakukan dulu padaku.

‘’Udah Vin… jangan dipikirin. ntar gue jealous lho…,’’ kata Rian.
‘’Sekarang lo mesti kosentrasi buat suka sama gue dan thanks ya udah
milih gue jadi pendamping lo…’’ terang Rian sambil tersenyum.
‘’Udah kalau gitu, sekarang lo istirahat ya…,’’ kata Rian. Aku tak tahu
kalau Rian mengetahui semua kejadian saat aku bersana Adit. Saat ini aku
merasa lebih bahagia, aku bersyukur masih ada seseorang yang bisa
menyukaiku dan menyayangiku dengan sepenuh hati.***


Read more

cerpen iseng

0 komentar
cerpen ini murni karyaku, tapi ya gitu dech......
selamat membaca.......Oh...GURUKU...
Eit salah, ‘Oh…anak guruku…

P
agi itu Luna datang ke sekolah aja udah telat, boro2 ikut upacara, masuk sekolah aja harus manjat pintu gerbang sekolah.
Sungguh sial banget nasib cewe’ class VIII D ini., dia dijemur ama Pak SUDIBYO di lapangan upacara seusai upacara.
Dengan badan yg gosong ia masuk ke kelas mengikuti mata pelajaran mathemathic yg dibencinta itu…lagi2 Pak Sudibyo yg mengajar. Bikin Luna tambah bete aja. Maklum guru murid itu gak pernah akur.
“Lun bangun lun….. Bangun!!!!”
“ah ntar dulu, gue lagi enak-enakan mimpi nich” sahut Luna setengah sadar dibangunin temenya dari tidurnya.
“Luna!!!!!! Tidur ya kamu???!!!!”
“eng….gak pak, saya kagak tidur tapi Bobok" Luna bangun karna terkejut denger bentakan pak Sudibyo.
“Lihat itu nilai ulanganmu!!!!” Bilang pak Sudibyo sambil menyodorkan kertas ulangan ke Luna.
Luna ulanngan selalu dikasih nilai 4, bukan karna Pak Sudibyo nya yg pelit tapi emang pada dasarnya Luna yg “DEDEL’’. Padahal satu kelas nilainya jozz-jozz semua.
Atas kejadian itu bukan malah Luna tobat malah membuat kebenciannya ama Pak Sudibyo bertambah..
Bukan malah rajin belajar malah ide kejinya muncul.
Suatu saat pak Sudibyo mengajar ke kelas VIII D, rencananya ini sudah disiapin matang2 ama dia sejak
subuh tadi.
Bel masuk berbunyi, menandakan jam Matematika.dimulai.
Pak Sudibyo masuk ke kelas dan duduk di kursi guru seperti biasanya.
Tak tau nya badan beliau yg kaya ban itu tlah bersatu bersama kursi kayu, yg tlah dilumuri lem cecungul setan itu…
“wah….kursinya ngefans tu ma bapak pengen minta tanda tangan tuchhh, wekeke……!!!!!!!!!!!!”
Seru gadis sok suci ini memecah keheningan kelas atas kejadian tersebut
“LUUUUUNNN……NNNNAAAAAAAAAA!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!”
“Eh bapak, gk usah manggil saya sgiitunya napa sich, coz kemarin saya habiz ke THT kok…”
“Hemhhh!!!!! Awas kamu ya!!” Bilang pak Sudibyo yg kepalanya keluar asapnya itu..
“Aha..kabur ah…dada pak….” Ujar Luna, ia langsung mengambil langkah seribu meninggalkan ruangan kelas.
Siiiiiiiiittttttt….sesampainya di depan laborat ia tiba2 mengerem cakram.
“CIHUY, CAKEP amact sich dia”, sambil memandang tanpa jeda ke siswa baru yg diketahui bernama Bhima itu….
Keringat kerenggosan karna habiz maen kejar-kejaran ma gurunya seakan sirna memandang cwo fotokopinya Adly Fairuz itu.
“Hae, kamu anak baru ya?
Leh kenalan gk? Pindahan dari mana?
Minta no. Hp nya donkk!!!” Tanya Luna beritubi2.
“Aku Bhima, pindahan dari Solo.., kamu napa kog kayaknya cape buanget gito?” Jwb bhima.
“ya nich aku habiz maen kucing2an ma pak raden yg kaya bola itu.” Jawab Luna.
Karna keasikan memandang wajah sang pangeran itu, Luna tak menyadari pak Sudibyo tlah berada disampingnya….
“Eh…bapak PISSSSS pak!!!”, Luna tak bisa mengelak lagi. Kuburan seakan tlah menunggunya, siap menampung raganya < sadis amact sih? Amat aja gak sadis!!! hahaha>
Pak Sudibyo melihat kearah siswa baru itu, seakan akan kemarahan terhadap Luna hilang sketika.
“Gimana Bhim, kamu senang gak dengan sekolah barumu?” Tanya pak Sudibyo.
“senang banget yah.” Jawab bhima.
“apa? Ayah?” Tanya Luna dengan nada heran.,memotong pembicaraan mereka!.
“iya lun, bapak yg kamu bilang pak raden kaya bola itu ayahku.” Bhima menjelaskan.
“O..M…G ….!!!!” kata Luna dalam hati.
Smenjak kejadian itu Luna ulangan math selalu dapat nilai 9, ada apakah gerangan?
Teman2, ternyatata kekuatan cinta itu bisa merubah segalanya, merubah ilusi menjadi kentara. Luna bisa dapat bagus juga ya nilai ulangannya mungkin iitu berkat Bhima, Luna gk mau donk kelihatan geblek di mata gebetannya iitu...









LUNA ; “E,e,e…itunggu dulu wahai penulis, gue bisa dapat nilai ulangan baguz karna gue nyontek stiap ulangan.hehehe… coz gue gk doyan belajar. Apa sich yg gk bakal gue lakukan unituk pangeran hati? Tak hanya laut yang ku sebrangi, samudrapun rela ku jabanin, smua itu kulakukan hanya demi engkau Bhima chayank... tapi.... kenapa enkau terlahir sebagai anak Pak Raden sodaranya bola itu? udah gemuk, kumisan lagi, ngajar math lagi. ih nggak banget dech!!! tapi aku gak mau donk klihatan geblek di depanmu, jadi, aku nambil jalan pintas aja ya.....nyontek geto lohhhh.....!!!!!! ”
PENULIS ; “$%#@#$,,,^%#*&*????????”


Read more

Skaldal cinta di pohon Chery

0 komentar
-->
lezat, kuahnya enak, nasinya juga harum. Itulah cita-rasa sate Madura
bagiku dan Eva. Kami sudah rutin, layaknya upacara sakral, untuk selalu
makan sate Madura setiap malam minggu. Seperti malam ini, aku dan Eva
sedang menikmati alunan kelezatan sate Madura yang enak di mulut,
mengenyangkan di perut, bersahabat pula dengan dompet. Dan di warung
sate Madura inilah tempat pertama kali kami bersua dan jatuh cinta pada
pandangan kelima. Betulkah? Betul, betul, betul!!!

“Re, tadi Neza sms, temen aku yang yang tomboy tu, tau ‘kan? Nah, dia
mau minta tolong translate-kan tugas Bahasa Jepangnya ke Bahasa Inggris.
Bisa, Ta?” Eva membuyarkan bentangan lamunanku, dia melahap satu tusuk
sate sekaligus ke dalam mulut mungilnya.

“Oh…ya my sweatheart, bisa, bilang ja ma Neza, antar tugasnya tu besok
ke kos dirimu ya,” tukasku sambil melalhap habis satu tangkai daging
sate juga. Begitulah, terkadang dia memanggil namaku, terkadang pula dia
memanggilku “Ta”, ujung dari kata “Cinta”.

* * *

“Ev, mana Neza-nya?” aku sudah tidak nyaman duduk di depan kos Eva,
sudah 4 jam kami menunggu.
“Bentar lagi Ta, sabar ya, Cinta.” Bujuknya sambil membelai kepalaku
lembut. “Nah, itu Nezanya datang,” katanya lagi. “Kok lama kali sich, Nez?”
“Aduwh Ev, tadi ada urusan, makanya telat. Maaf ya!” Neza memelas.

Eva sering cerita tentang Neza, tapi aku belum pernah ketemu dengannya.
Inilah kali pertama aku bertemu Neza. Dalam dongkol, kulirikkan mataku
ke arah Neza. Dia memiliki rambut lurus sebahu, diikat seperti ekor
kuda, mengenakan baju kaos kuning lengan pendek dan celana jeans biru
selutut. Aku tidak percaya kalau ternyata ada gadis di bumi ini yang
lebih ayu dari pacarku, tapi walaupun mataku terpana, hatiku sama sekali
tidak terpesona, cintaku tetaplah untuk kekasihku, Eva.

“Ini cowok Eva ya?” tanyanya sambil mengulum senyum. Aku hanya
mengangguk dan membalas senyumnya. “Neza”, ujarnya sambil mengulurkan
tangan.

Aku jabat tangannya, “Rehan.” Jawabku singkat. “Oh…ya, langsung aja,
yang mana tugasnya?” tanyaku to the point.

“Ini,” Neza mengulurkan tiga lembar teks berbahasa Jepang. Aku segera
menggarapnya, men-translate-kannya ke Bahasa Inggris.

Tidak lama kemudian aku menyelesaikan terjemahan itu. Aku menyodorkan 2
helai kertas yang dibelai udara seperti rambut Neza yang terurai
dihembus angin sepoi-sepoi.

“Makasih ya.” Tutur Neza lembut, lalu Eva mengantarnya ke gerbang kos di
bawah sore yang hampir senja. Setelah itu, langit berwarna jingga
mengatup kisah pada hari itu.

* * *

“Kurang ajar!!!”
Buak!!! Tanganku berdarah meninju dinding, amarahku terbakar. Kekasihku
yang selama ini kuanggap setia, ternyata bersikap seperti itu di
belakangku. Selama ini aku percaya saja sama dia, tapi ternyata ini
balasan atas kepercayaan yang telah kuberikan padanya. Dia telah
menghujamkan belati ke jantungku. Dia telah menikamku dengan sadis dari
belakang. Pengkhianatannya mengubur cintaku padanya dan membangkitkan
kebencian yang tak terkira. Pantas saja kadang aku merasa aneh, kenapa
ada nomor hp seorang cowok yang sampai dua tiga buah di hp

Eva. Satu nama tiga nomor dengan kartu yang berbeda, pantaslah Eva
memiliki banyak kartu.
Nama cowok itu Bang Andi. Ketika aku tanya siapa Bang Andi, Eva bilang
kalau orang itu adalah abang angkatnya. Aku percaya saja padanya, tapi
belakangan ini aku curiga. Setiap kali aku menelponnya, selalu tertulis
‘menunggu’ di hp-ku, bahkan saat kami makan sate, si Bang Andi juga
kerap kali menghubungi Eva. Dan ternyata, si Bang Andi itu tidak lain
tidak bukan adalah si Dika alias Andika Pratama, mantannya. Dia telah
membohongiku. Dia masih berhubungan dengan mantannya di belakangku. Dia
pernah berjanji padaku bahwa dia tidak akan pernah menjalin hubungan
apa-apa lagi dengan mantannya, tapi sekarang… Dia mengingkari janjinya!!!

Kenapa dia tega melakukan semua ini padaku, padahal aku tidak pernah
menyakitinya, aku selalu menyayanginya sepenuh hati. Pengkhianatannya
bagaikan petir yang menghancurleburkan jasadku. Aku baru tahu semua itu
hari ini, saat aku membuka facebook Eva. Di sana, aku menemukan pesan
yang isinya mereka berdua janjian ketemuan nanti malam di kos Eva, di
bawah pohon cherry di depan kos.

Begitu Eva pulang kuliah, aku menemuinya seperti biasa. Aku bersikap
seolah tidak tahu apa-apa. Eva bilang malam ini dia akan mengerjakan
tugas kuliah, jadi tidak bisa ketemuan. Aku iyakan saja, lalu malam
harinya, aku datang setengah jam lebih cepat dari waktu ketemuan yang
telah mereka rencanakan. Pengintaianku tak ubahnya seperti pengintaian
singa yang akan menerkam mangsa. Aku bersembunyi di balik pagar yang
ditumbuhi bunga akasia yang cukup rimbun. Bulan enggan keluar dari
selimut awan hitam, seakan takut melihat ledakan amarahku dan remuk
redam hatiku.

Setengah jam berlalu, aku melihat Dika datang. Mereka duduk berdua,
dekat, dekat sekali. Bara api amarah sontak menjalari urat-urat di
sekujur tubuhku. Aku segera keluar dari persembunyian, Eva terkejut
melihat kedatanganku. Tanpa banyak basa basi, aku mencengkram kerah baju
Dika dan meninju wajahnya, perutnya dan menendang dadanya. Tak ayal, dia
terjengkang. Eva berteriak histeris melihat kejadian itu. Belum puas
dengan semua itu, aku mendaratkan bogem mentah ke mulut Dika sekuat
tenaga sampai semua gigi serinya patah. Setelah itu, kupalingkan wajahku
ke Eva.

“Mulai hari ini, kita PUTUS!!!” Bentakku dan berlalu meninggalkannya
yang terisak-isak menangis. Aku tenggelam dalam gulita. Hatiku remuk tak
bersisa. Air mataku menetes, menelusuri pipiku dan jatuh ke bumi setelah
singgah ke dagu. Air mata itu adalah derai air mata terakhir untuk
cinta. Persetan dengan cinta. Ternyata wanita itu pendusta. Semua wanita
itu pembohong, pengkhianat!!! Aku menggerutu, mengutuk sepanjang malam.

* * *

Bulan demi bulan pun datang silih berganti. Bahkan tanpa terasa, sudah
dua tahun sejak peristiwa agresi pengkhianatan cinta itu menimpaku, aku
masih belum juga memiliki pacar baru. Aku hanya berjalan ditemani waktu
menelusuri jalan setapak di taman belakang kampusku. Di tanganku
bergelayut tas kotak dengan isi penuh buku.
Bruk!!!

Aku ditubruk dari belakang. Semua bukuku berserakan ke taman, sebagian
malah nyungsep ke becekan yang digenangi air keruh.

“Kurang ajar!!!” hardikku seraya mengepal tinju. Aku akan segera
mendaratkannya di wajah orang yang mengakibatkan semua ini. Tapi,
berselang satu detik kemudian, jantungku berhenti berdetak, darahku
membeku. Gadis itu tersenyum padaku dan meminta maaf, hatiku luluh, aku
balas senyumnya dan menatap matanya. Kali ini, mataku terpana dan hatiku
terpesona.

“Neza…” sapaku.
“Rehan…” balasnya sambil menatapku dengan senyum menggoda, betapa
manisnya dia.***


Read more